Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir https://ejurnal.stiqisykarima.ac.id/index.php/AlKarima <p align="justify"><strong><img src="https://ejurnal.stiqisykarima.ac.id/public/site/images/admin/cover-alkarima-utama.png" alt="cover uttama" width="230" height="230" /></strong></p> <p align="justify"><strong>AL KARIMA</strong> is a biannual journal focused on the study of the science of the Quran and its interpretation. It is published by STIQ Isy Karima in Karanganyar, Central Java, with issues released in February and August each year. The journal openly invites contributions of thoughtful insights and research findings from scholars and researchers in relevant academic disciplines.</p> Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar en-US Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir 2549-3035 <p><a href="https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/" rel="license"><img src="https://i.creativecommons.org/l/by-sa/4.0/88x31.png" alt="Creative Commons License"></a></p> <p>This work is licensed under a&nbsp;<a href="https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License</a>.</p> <p>&nbsp;</p> Honey and Healing in the Qur’an: A Multidisciplinary Analysis of Surah Al-Nahl (68–69) https://ejurnal.stiqisykarima.ac.id/index.php/AlKarima/article/view/434 <p><em>This study aims to analyze </em><em>ayat</em><em> (68–69) of Surah Al-Nahl through a multidisciplinary approach that combines philological and rhetorical analysis of the Qur’anic text with comparisons to modern findings in chemistry, biology, and medical sciences. The methodology emphasizes the centrality of the Qur’anic text and its interpretation by major exegetes such as Al-Tabari and Ibn Kathir, while incorporating experimental results from peer-reviewed scientific research. The study addresses precise linguistic and rhetorical elements, such as the connotation of the verb “awḥā” in the context of the innate inspiration of bees, the meaning of “buṭūnihā” in light of insect anatomy, the lexical and rhetorical variety in “mukhtalifun alwānuhu”, and the sensory and metaphorical implications of “shifāʾun lil-nās.” The findings reveal a striking convergence between Qur’anic depictions and modern scientific studies that demonstrate honey’s antibacterial and anti-inflammatory properties, as well as its variation according to botanical and geographical sources. The study concludes that the Qur’anic text presents an integrated model that unites miraculous eloquence with scientific precision, and calls for a research methodology that combines revelation with empirical knowledge within a reflective and epistemological framework.</em></p> Fatima Alsaeh Safa Alrumayh Najah Baroud Eman Alsaeh Amaal Kasheem Copyright (c) 2025 Fatima Alsaeh, Safa Alrumayh, Najah Baroud, Eman Alsaeh, Amaal Kasheem https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-11-16 2025-11-16 9 2 131 149 10.58438/alkarima.v9i2.434 Konsep Ulama dalam Tafsir Klasik dan Modern: Studi Komparatif Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Mishbah https://ejurnal.stiqisykarima.ac.id/index.php/AlKarima/article/view/367 <p><em>Urgensi penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk meninjau kembali konsep “ulama” dalam cahaya Al-Qur’an guna menjawab tantangan intelektual dan sosial kontemporer. Penentuan karakteristik ulama dan pemahaman terhadap peran mereka sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an berkontribusi dalam membangun kesadaran ilmiah dan spiritual yang seimbang di tengah masyarakat Islam. Di antara ayat yang menonjol dalam mendukung konsep ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Fāṭir [35]: 28), yang menegaskan hubungan esensial antara ilmu dan rasa takut kepada Allah serta menjadikannya tolok ukur utama dalam mendefinisikan ulama. Penelitian ini bertujuan memahami karakteristik ulama dalam perspektif Al-Qur’an, mengidentifikasi padanan makna kata “ulama”, serta menganalisis metode penafsiran yang digunakan oleh Ibnu Katsir dan Quraish Shihab. Pendekatan yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan metode deskriptif-analitis. Tafsir Ibnu Katsir menerapkan metode riwayah dan salaf, dengan tahapan sistematis: mengaitkan ayat-ayat terkait, mengutip hadis, serta menggunakan pendapat sahabat dan tabi‘in sebelum melakukan tarjih berdasarkan kekuatan sanad dan konsistensi makna. Adapun Tafsir Al-Mishbah menggunakan pendekatan analisis kontekstual melalui kajian linguistik, sebab turunnya ayat, konteks sosial-historis, dan relevansi makna kemanusiaan.Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika penafsiran terhadap konsep ulama dalam Islam serta relevansinya menghadapi tantangan zaman modern, sekaligus mendorong pemahaman yang kritis dan komprehensif terhadap teks-teks suci Al-Qur’an.</em></p> Muh. Nur As'ad HL Muhammad Yusuf Mardan Ummu Sulaimah Saleh Copyright (c) 2025 Muh. Nur As'ad HL, Muhammad Yusuf, Mardan, Ummu Sulaimah Saleh https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-11-16 2025-11-16 9 2 150 170 10.58438/alkarima.v9i2.367 Health Benefits of Ajwa Dates (Phoenix dactylifera L) : A Qur’anic Thematic Interpretation and Scientific Perspective https://ejurnal.stiqisykarima.ac.id/index.php/AlKarima/article/view/374 <p><em>This study focuses on the health benefits of Ajwa dates (Phoenix dactylifera L.) through a Qur’anic thematic interpretation combined with relevant scientific findings. Unlike previous studies that broadly discuss plant diversity, this research specifically highlights Ajwa dates, which are mentioned in hadith and valued in Islamic tradition for their protective and therapeutic properties. The thematic interpretation (tafsīr maudhū‘ī) method was applied by collecting and analyzing Qur’anic verses and hadith related to dates, then synthesizing their meanings in light of classical exegesis and contemporary scientific literature. Scientific data were obtained through a qualitative literature review of medical and nutritional studies. The results indicate that Ajwa dates are rich in nutrients, antioxidants, and bioactive compounds with proven health benefits, such as enhancing immunity, reducing blood pressure, supporting women’s reproductive health, and providing protective effects against toxins. Theologically, the Qur’an and hadith emphasize dates as blessings and sources of healing, which are now further supported by scientific evidence. This study concludes that Ajwa dates hold significant value as both a Qur’anic health guidance and a scientifically supported natural remedy, offering insights into integrating faith-based perspectives with modern health sciences.</em></p> Fingki Hariyana Umaiyatus Syarifah Bayyinatul Muchtaromah Yes Setyowati Copyright (c) 2025 Fingki Hariyana, Umaiyatus Syarifah , Bayyinatul Muchtaromah, Yes Setyowati https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-11-16 2025-11-16 9 2 171 185 10.58438/alkarima.v9i2.374 Daur Air Perspektif Eko-Teologis: Kajian Komparatif Tafsir al-Rāzī dan Quraish Shihab atas QS. An-Nur [24]:43 https://ejurnal.stiqisykarima.ac.id/index.php/AlKarima/article/view/443 <p>Fenomena air dan siklusnya adalah salah satu tema utama dalam Al-Qur’an, sebagaimana diuraikan dalam QS. An-Nur [24]:43 yang menjelaskan proses pembentukan awan, datangnya hujan, dan munculnya kilat. Ayat ini tidak hanya membawa pesan teologis, tetapi juga memiliki aspek ekologis yang relevan dengan tantangan lingkungan saat ini. Rumusan masalah penelitian ini meliputi: (1) seperti apa penafsiran Fakhruddin al-Rāzī terhadap QS. An-Nur [24]:43, (2) apa pendapat M. Quraish Shihab tentangnya, dan (3) bagaimana keterkaitan keduanya dengan teori siklus air kontemporer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan dan kesamaan antara tafsir klasik dan modern serta mengintegrasikannya dalam sudut pandang eko-teologis. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif melalui studi literatur dengan pendekatan tafsir <em>maudhu'i</em> untuk menulusuri tema air secara tematik dalam Al-Qur’an, dan analisis perbandingan untuk menelaah kesamaan dan perbedaan antara tafsir klasik (al-Rāzī) dan tafsir modern (Quraish Shihab) dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Rāzī fokus pada aspek teologis-filosofis, sementara Quraish Shihab mengaitkan penafsiran tersebut dengan dimensi ilmiah dan ekologis. Sintesis keduanya melahirkan perspektif eko-teologis Qur’ani yang meegaskan hujan sebagai ayat Tuhan sekaligus tanggung jawab ekologis manusia. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi klasik dan modern dalam membangun paradigma tafsir ilmiah menuju tafsir eko-teologis Qur’ani yang relevan dengan isu lingkungan global</p> Jainah Nismah Sa’adah Taufik Warman Mahfuzh Rusdeana Ikmal Wahyudi Copyright (c) 2025 Jainah, Nismah Sa’adah, Taufik Warman Mahfuzh, Rusdeana, Ikmal Wahyudi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2025-11-16 2025-11-16 9 2 186 210 10.58438/alkarima.v9i2.443